RBS untuk Kemajuan Literasi di Pulau Gorom
Di banyak tempat, kita menemukan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ruang kecil yang penuh cinta. Di Desa Kota Sirih, Maluku, ruang kecil itu bernama Rumah Bacarita Sejarah—sebuah taman baca yang sederhana, tapi sarat makna. Digagas oleh Amirudin Rumagia, seorang pem
uda yang membawa pulang inspirasi dari pengalamannya saat Kuliah Kerja Nyata, RBS kini menjadi oase literasi bagi anak-anak di desa. Bersama adik dan kakaknya, Amar membangun tempat ini bukan sebagai proyek, melainkan sebagai ikhtiar cinta terhadap kampung halaman.
Rumah Bacarita Sejarah tidak berdiri di atas kemewahan, tapi di atas kesadaran bahwa setiap anak, tak peduli di mana ia tinggal, berhak memiliki ruang untuk tumbuh dan bermimpi. Di RBS, anak-anak datang bukan karena dipaksa, tapi karena ingin. Mereka membaca buku, belajar mengaji, dan bermain bersama—semua dilakukan dengan sukarela dan sukacita. Tak ada bel, tak ada absensi, tak ada tekanan. Yang ada hanyalah semangat belajar yang tumbuh alami dari dalam diri mereka.
Yang istimewa, RBS tidak hanya menjadi tempat membaca. Ia telah menjelma menjadi ruang pertemuan ide dan kolaborasi. Para pemuda desa menjadikannya titik kumpul untuk berdiskusi, merancang kegiatan, dan menghidupkan kembali budaya gotong royong yang mulai pudar. Di sini, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga membaca realitas—melihat persoalan, lalu bersama-sama mencari jalan keluar.
Apa yang dilakukan oleh Amar dan keluarganya mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan monopoli lembaga formal semata, tapi bisa tumbuh dari inisiatif warga, dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi niat baik. RBS adalah contoh bahwa gerakan pendidikan berbasis komunitas mampu menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan. Anak-anak yang tumbuh di taman baca ini tidak hanya cerdas dalam kata, tapi juga hangat dalam rasa.
Rumah Bacarita Sejarah adalah pengingat bagi kita semua: bahwa perubahan sejati dimulai dari mereka yang tidak menunggu segalanya sempurna. Mereka yang memulai, meski dengan keterbatasan, karena percaya bahwa satu buku, satu ruang baca, dan satu percakapan hangat bisa mengubah arah masa depan. Dari Kota Sirih, kita belajar bahwa literasi bukan soal buku semata, tapi tentang membangun harapan, menyemai cinta, dan menghidupkan semangat belajar bersama.

Komentar
Posting Komentar